Kunjungan Pastoral Ephorus ke HKBP Pardomuan Ressort Immanuel Dumai

pardomuan

Dumai, Riau.

Disela-sela kunjungan Ephorus ke HKBP Immanuel, Dumai – Ephorus menyempatkan diri mengunjungi salah satu pagaran HKBP Ressort Immanuel, yaitu HKBP Pardomuan. Awalnya, gereja HKBP Pardomuan ini didirikan pada tahun 1998 di daerah Bagan Besar oleh masyarakat Batak yang merantau ke daerah tersebut. Namun, beberapa bulan berikutnya, gereja tersebut dibakar oleh sekelompok masyarakat yang tidak dikenal. Akibatnya, warga jemaat terpaksa melakukan ibadah minggu di rumah-rumah secara bergilir dan kondisi ini  berlangsung selama dua tahun.

Gedung gereja HKBP Pardomuan

Pada tahun 2000, pemerintah daerah setempat memberikan sebidang tanah di daerah Simpang Murini untuk dibangun gedung gereja. Namun, pada tahun 2013, gereja yang telah dibangun itu dirobohkan oleh sekelompok warga masyarakat yang tidak dikenal. Setelah dibangun kembali, dirobohkan lagi pada tahun 2006. Setalah itu, dibangun kembali dan inilah gedung gereja yang dipergunakan sampai sekarang.

Ephorus menuliskan Surat Pastoral kepada seluruh warga jemaat HKBP Pardomuan untuk dibacakan pada ibadah minggu

Ephorus berbincang dengan parhalado HKBP Pardomuan

Getirnya pergumulan dan perjuangan warga jemaat HKBP Pardomuan dalam membangun gereja mendapat perhatian yang mendalam dari Ephorus. Dalam kunjungannya itu, Ephorus menuiskan Surat Pastoral untuk dibacakan pada ibadah minggu kepada seluruh warga jemaat HKBP Pardomuan dan mendoakan mereka agar tetap tabah di tengah-tengah kesulitan yang mereka alami dalam mengikut Tuhan Yesus. Ephorus berharap bahwa pada waktunya gedung gereja yang layak akan berdiri di tempat tersebut sebagai tempat beribadah kepada Allah sumber kehidupan.

Ephorus dan Ompung Boru, didampingi Praeses dan Inang, Pendeta Ressort Immanuel, foto bersama parhalado HKBP Pardomuan

Gereja HKBP Pardomuan ini terdiri dari 136 KK, dilayani seorang pendeta, Pdt. Sihar M. Gurning, M.Div dan 15 orang parhalado. Pada umumnya, warga jemaat bekerja sebagai pekerja pada perkebunan sawit, pegawai dan sebagian kecil memiliki kebun sawit. Kiranya Tuhan memberkati perjuangan mereka untuk mendirikan gedung gereja yang layak sebagai tempat beribadah. (Pdt. Mangasa Lumbantobing)